Login | Registrasi

Blast Furnace Tungku 'Si Pengendali Besi'

  • 07 Desember 2016
  • 19:56:53
  • dedipe
  • Teknologi

JIKA Anda penggemar film fiksi ilmiah, tentu kenal Magneto, musuh Wolferine dkk dalam film X-Men. Tokoh antagonis itu diceritakan mampu mengendalikan semua jenis logam sesuka hati. Dibeng­kokkan, dipatahkan, bahkan hingga dilumerkan menjadi bentuk baru.

JIKA Anda penggemar film fiksi ilmiah, tentu kenal Magneto, musuh Wolferine dkk dalam film X-Men. Tokoh antagonis itu diceritakan mampu mengendalikan semua jenis logam sesuka hati. Dibeng­kokkan, dipatahkan, bahkan hingga dilumerkan menjadi bentuk baru.

Nah, proses peleburan besi sejatinya bukan hal baru dan bukan hak prerogatifnya si Magneto. Dalam proses pembuatan besi baja, maka 'si pengendali besi' adalah Blast Furnace. Segala besi baja yang kita temui sehari-hari merupakan hasil akhir dari proses pelumeran atau peleburan dari bahan dasar menjadi bahan jadi siap pakai.

Nah, proses peleburan tersebut bermacem-macem. Para pabrikator besi baja biasanya menggunakan teknologi atau yang kerap disebut Blast Furnance (tungku tanur tinggi). Blast Furnance merupakan teknologi proses pengolahan bijih besi untuk dijadikan besi kasar (pig iron).

Proses Blast Furnace diawali dengan dimasukkannya bijih besi, bersama dengan batu kapur dan kokas ke dalam tungku tanur. Selain bijih besi,umumnya untuk bahan bakar diperlukan  juga antara lain kokas, batu kapur (flux), arang kayu dan antrasit. Namun perlu diperhatikan bahwa bijih besi yang akan dimasukkan ke dalam Blast Furnace haruslah digumpalkan terlebih dahulu. Hal tersebut berguna agar aliran udara panas bisa dengan mudah bergerak melewati celah-celah bijih besi dan tentunya akan mempercepat proses reduksi. Setelah bahan tercampur semua, didalam tungku tanur dialirkan udara panas yang akan membakar kokas sehingga bereaksi dengan bijih besi  atau terjadi pengikatan. Ketika bereaksi, temperatur pun semakin meningkat hingga mencapai temperatur leleh besi,yaknipada 1650 derajat Celcius. Di posisi leleh demikian, sesuai rumus kimia, besi akan terbakar dan melepaskan oksidanya. Akibat proses pembakaran itu, besi kemudian meleleh atau menjadi besi cair. Setelah itu Besi kasar itu kemudian diolah kembali menjadi besi baja tuang untuk dicetak.

Prinsip kerja Blast Furnace adalah prinsip reduksi. Pada proses ini unsur karbon monoksida dapat menyerap  unsur asam dari ikatan­ ikatan besi unsur asam pada suhu tinggi. Pada pembakaran  suhu tinggi dengan udara panas, dihasilkan suhu yang dapat menyelenggarakan reduksi itu. 

Tujuan proses peleburan dengan teknologiBlast Furnace  adalah untuk mempermudah dan mempercepat proses pengisian bahan mentah ke dalam dapur tinggi sehingga dapat memperlancar produksi besi kasar. Secara teknis Blast Furnace terdiri dari kerangka  baja yang terdiri tegak lurus dan mendekati bentuk silinder. Ketinggian tung­kunya biasanya mencapai sekitar 30 meter dan diameter sekitar 6 meter. Pada bagian dalam dapur disediakan batu tahan api dan dilengkapi dengan alat pemasukan  bahan - bahan pada bagian atas, sedangkan pada bagian bawah terdapat tempat pengumpulan besi dan terak cair.

Teknologi Blast  Furnace sendiri sudah dikuasai Lembaga  llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 1990. Artinya,teknologi ini sudah banyak dipakai pabrikator. Perbedaannya, terletak pada pengembangan inovasi teknolog­inya. Pengembangan itu mencakup desain dasar, desain rinci, konstruk­ si tungku hingga pengoperasian secara berkesinambungan.

Keunggulan  teknologi ini terletak pada tungku yang menghasilkan besi secara masal, mempunyai efisiensithermal yang tinggi, beroperasi dua puluh empat jam sehari secara berkesinambungan hingga waktu yang lama, bahkan hingga belasan tahun. Selain itu adapula manfaat berupa biaya produksi yang lebih rendah karena penurunan konsumsi listrik serta adanya fleksibilitas penggunaan bahan baku.

 


Sumber : Tabloid Steelindonesia



Artikel Lainnya