Login | Registrasi

Rupiah Lemah, PHK di Industri Baja Mengintai

  • 26 Oktober 2016
  • 13:34:44
  • bintang
  • Statistik

Rupiah terus menunjukkan tren pelemahan. Jika ini terus terjadi berkepanjangan, maka industri besi baja semakin terpuruk. Tidak berotot dan tidak perkasa seperti tiga atau lima tahun lalu.

Dollar terus melambung. Per pertengahan Agustus, nilai tukar mata uang Paman Sam itu semakin perkasa di level Rp 13.765 per dollar AS. Tren pelemahan rupiah telah terjadi sejak setahun lalu. Meski sempat menguat pada periode September-Desember 2014, atau pasca terpilihnya Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Tapi kini, rupiah terus menunjukkan tren pelemahan. Jika ini terus terjadi berkepanjangan, maka industri besi baja semakin terpuruk. Tidak berotot dan tidak perkasa seperti tiga atau lima tahun lalu.

Menurut Direktur Eksekutif IISIA, Hidayat Trisaputro, jika dolar melambung maka industri baja nasional akan sulit tumbuh. “Untuk diketahui bahan baku baja dan besi itu 70-80% impor. Sedangkan daya beli dalam negeri itu terbatas dan memakai rupiah. Pelaku usaha baja menjadi serba sulit, sebab menaikkan harga juga tidak bisa sembarangan,” katanya.

Hal tersebut masih ditambah dengan mahalnya biaya energi yang harus dikeluarkan oleh produsen baja. Hidayat mengatakan, harga listrik di Indonesia merupakan yang termahal se-Asia Tenggara. “Harga di kita berkisar US$ 7/mmbtu-US$ 9,3/mmbtu, padahal di Malaysia hanya US$ 4/mmbtu. Bahkan harga internasional hanya sekitar US$ 3/mmbtu.” katanya.

Seperti diketahui Pemerintah memberlakukan kenaikan tarif listrik untuk golongan I-3 khusus perusahaan terbuka total sebesar 38,9% tahun 2014, sedangkan untuk golongan I-4 naik total 64,7%.

Golongan listrik I-3 yang sudah menjadi perusahaan terbuka (terdaftar di bursa saham) adalah golongan industri yang memiliki daya >200 Kva Tegangan Menengah, sedangkan golongan listrik I-4 adalah industri yang memiliki daya 30.000 Kva Tegangan Tinggi. Kedua golongan ini yang akan dicabut subsidi listriknya dengan cara menaikkan tarifnya.

Di sisi lain, saat ini harga minyak dunia dan harga baja juga mengalami tren penurunan sedangkan permintaan dalam negeri juga cenderung stagnan. Alhasil produsen baja harus putar otak untuk mengurangi biaya produksi termasuk melakukan PHK karyawan.

Jika kondisinya sudah demikian, PHK karyawan memang sulit dihindari. PT Growth Sumatera bahkan sudah melakukan pengurangan karyawan sejak awal tahun. Sekitar 100 karyawan terpaksa dirumahkan.

“Kami terpaksa tidak memperpanjang karyawan-karyawan berstatus kontrak karena pemintaan baja sedang lesu,” ujar Manager Operasional PT Growth Sumatera Andreas Tarigan kepada Tabloid Steel Indonesia.

Begitu juga dengan PT Krakatau Wajatama, perusahaan milik grup Krakatau Steel yang memproduksi baja beton dan baja profil ini sejak beberapa bulan terakhir mengurangi produksi. Mesin-mesin Roll Mill yang biasanya begitu perkasa mencetak baja beton, terlihat lunglai tidak beroperasi. Namun PT Krakatau Wajatama mengaku belum sampai tahap melakukan PHK karyawan.

Hampir senada dengan PT Gunung Gahapi Sakti. Perusahaan yang terletak di Kota Medan ini hanya mengoperasikan dua dari empat Roll Mill yang mereka miliki. Padahal jika empat Roll Mill ini beroperasi, bisa mencetak hingga 200 ribu ton per tahun.

“Kami masih tetap memproduksi, namun kapasitasnya tidak seperti dulu lagi. Ada penurunan permintaan. Kalau soal pengurangan karyawan, pasti itu terkait. Logikanya jika ada pengurangan produksi tentu ada pengurangan tenaga kerja,” kata Direktur  PT Gunung Gahapi Sakti Gimin Tanno yang enggan menyebut berapa karyawan yang di PHK.

Sejumlah produsen besi baja  memang sangat terpukul dengan melemahnya rupiah. Terutama produsen yang  memenuhi kebutuhan bahan bakunya dari impor seperti billet atau slab. Beruntung kalau perusahaan itu memiliki stok bahan baku sebelum rupiah melemah.


Sumber : Tabloid Steel Indonesia



Berita Lainnya