Login | Registrasi

Jurus Industri Baja di Daerah Bertahan dari Krisis

  • 09 Desember 2016
  • 15:12:41
  • dedipe
  • Profil

Selain Jabodetabek, Jawa Timur merupakan basis produsen baja di Tanah Air.

Selain Jabodetabek, Jawa Timur merupakan basis produsen baja di Tanah Air. Di sana banyak terdapat produsen baja dengan nama besar. PT Ispat Indo milik konglomerat baja dunia Laksmi Mitaal hanya satu contoh. Selain itu, masih banyak produsen-produsen baja berskala menengah.

September silam awak redaksi Tabloid Steel Indonesia sempat menyambangi sejumlah produsen baja di wilayah Jawa Timur. Umumnya, produsen baja atau pabrikator baja berlokasi di Kompleks Industri Margomulyo Sidoarjo, atau di daerah Rungkut, Surabaya Timur.

Di dua wilayah ini redaksi Steel Indonesia menyambangi tiga perusahaan baja berskala menengah dan besar yaitu PT Bhirawa Steel, PT Asian Profile Indonesia, dan PT Gunawan Dianjaya Steel. Ketiga perusahaan ini memiliki fokus produk yang berbeda-beda.

PT Bhirawa Steel memiliki produk andalan wiremesh dengan ukuran yang dapat dikustomisasi. Kemudian PT Asia Profile Indonesia berfokus pada produk besi beton dengan merek API. Sedangkan PT Gunawan Dianjaya Steel adalah produsen plat yang produknya didominasi sebagai bahan baku pembuatan kapal.

Ketiga produsen mengaku mengalami persoalan yang nyaris sama. Yaitu lesunya produktifitas lantaran pelambatan ekonomi dan melonjaknya kurs dollar. Pelambatan ekonomi berimbas pada menurunnya permintaan, sedangkan tingginya kurs dollar membuat biaya produksi meningkat.

“Saat ini bahan baku kami beli dengan kurs dollar, sedangkan harga jual dengan rupiah. Saat rupiah merosot, tentu ada selisih atau gap yang besar dengan kurs dollar, akhirnya biaya produksi meningkat sedangkan harga jual tetap sama,” ujar Marketing Manager PT Asian Profile Indonesia, Meilyna Widjaja.

Alhasil perusahaan ini harus melakukan efisiensi. “Efisiensi yang kami lakukan misalnya pengetatan anggaran, peningkatan produktifitas bahan baku lokal dan sebagainya. Pokoknya apa yang bisa kami lakukan, kami lakukan,” tambahnya.

Demikian juga dengan PT Bhirawa Steel dan  PT Gunawan Dianjaya Steel. PT Bhirawa Steel bahkan sempat menghentikan produksi besi deform bar beberapa bulan lalu dan hanya memproduksi wiremesh. Sedangkan PT Gunawan Dianjaya Steel mengaku menunggu realisasi pemerintah membangun industri perkapalan nasional.

Situasi yang sama juga dialami oleh PT Ispat Indo. Perusahaan baja yang tergolong terbesar di wilayah Jawa Timur ini juga tidak kuasa menahan gejolak ekonomi. Sejak awal tahun perusahaan ini telah merumahkan puluhan karyawan. Sedangkan karyawan dengan status kontrak tidak lagi diperpanjang.

Menurunkan produksi merupakan strategi sejumlah perusahaan baja di daerah. Ini bisa menjadi salah satu cara bertahan lantaran permintaan baja yang lesu. Sejauh ini perusahaan baja di daerah belum terlalu banyak melakukan PHK karyawan. Namun jika ini terus menerus terjadi, bukan tidak mungkin ancaman gelombang PHK pasti akan terjadi.


Sumber : steelindonesianews



Berita Lainnya