Login | Registrasi

Pemerintah Diminta Siapkan Peta Jalan Industri Logam

  • 19 Desember 2016
  • 10:49:09
  • yuwana
  • Lainnya

Pemerintah perlu dan harus menyiapkan 'road map' industri baja dan industri logam

Pemerintah diminta untuk menyiapkan peta jalan agar industri logam dan baja nasional dapat meningkatkan daya saingnya dalam menghadapi persaingan perdagangan di tingkat global. "Pemerintah perlu dan harus menyiapkan 'road map' industri baja dan industri logam," kata Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijana dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta.

Azam juga menyatakan bahwa asosiasi industri mesin perkakas Indonesia juga dinilai tidak bisa berbuat banyak untuk mengembangkan diri ketika industri logam nasional stagnan. Hal tersebut, lanjutnya, karena jalannya perindustrian mesin perkakas bergantung dari ketersediaan logam nasional.

Politikus Partai Demokrat itu mengingatkan bahwa kebijakan industri logam ada di tangan pemerintah, dan regulasinya ditentukan oleh Kementerian Perindustrian. "Pemerintah bertanggung jawab menciptakan tumbuh industri logam di Indonesia. Industri logam itu hulu, induk dari segala industri," jelas Azam.

Dia juga mengutarakan harapannya agar Indonesia tidak hanya sekadar menjadi pasar tetapi juga harus memiliki visi untuk menjadi produsen. Sebagaimana diwartakan, industri bahan baku logam di Tanah Air hingga pertengahan Oktober 2016 mengalami penurunan sebesar 20 persen dibanding 2015, akibat serbuan bahan baku dari Tiongkok dan belum adanya pabrik pengolahan hasil tambang di Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengusaha Logam Waru (Aspilow) Miftahul Ulum di Surabaya, Kamis (13/10) mengatakan dari Januari hingga pertengahan Oktober 2016 pihaknya hanya mampu mengolah sekitar 800 kuintal per hari, padahal tahun 2015 dirinya bisa mengolah 1 ton logam. "Banyak faktor yang menyebabkan penurunan produksi ini, salah satunya serbuan produk bahan baku dari Tiongkok dan hampir 30 persen pasar bahan baku logam di Indonesia dikuasai Tiongkok," katanya.

Selain itu, ia juga mengemukakan bahwa harganya pun lebih murah, yakni dengan perbandingan logam Indonesia menjual Rp7.700 per lembar, maka produk Tiongkok sebesar Rp7.500 per lembar. Faktor lain, lanjutnya, adalah mahalnya Sumber Daya Manusia (SDM) di industri ini dan UMK yang ditentukan pemerintah terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan hasil produksi pengusaha lokal. "Begitu pula dengan biaya angkut yang tidak ditunjang dengan infrastruktur memadai membuat industri logam sulit naik," katanya.


Sumber : Antara



Berita Lainnya