Login | Registrasi

Industri Baja Diramal Cerah

  • 19 Januari 2017
  • 15:13:38
  • dedipe
  • Lainnya

Pertumbuhan bisnis industri baja nasional sepanjang 2017 diprediksi bakal lebih baik dari tahun sebelumnya.

Pertumbuhan bisnis industri baja nasional sepanjang 2017 diprediksi bakal lebih baik dari tahun sebelumnya. Bahkan pelaku usaha optimistis bisnis makin moncer dengan maraknya pembangunan infrastruktur. Tapi, dengan catatan baja buatan China yang berseliweran di Indonesia wajib dibendung.

Direktur Utama PT. Sarana Central Bajatama Tbk Handaja Susanto mengatakan, berbagai proyek infrastruktur di tanah air yang sudah jalan dari tahun sebelumnya dipercaya mampu meningkatkan penyerapan produksi baja. "Banyak faktor yang bisa memacu pertumbuhan industri baja seperti proyek infrastruktur yang makin banyak dan penurunan harga gas." kata Handaja kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Meski begitu, dia berharap, tahun ini baja impor diharapkan tidak mengusik proses perumbuhan industri lokal. " banyaknya baja impor itu mengganggu apalagi kalau ada yang ilegal. Kami bersama asosiasi akan membahas hal ini dengan pemerintah." tuturnya.

Menurutnya, jika maslah klasik tersebut tidak dibenahi pada tahun ini maka jangan berharap industri bisa tumbuh dua digit. Sebelumnya menemui pemerintah, dalam waktu dekat pihak industri akan melakukan konsolidasi mencari solusi. Bahkan, rencananya pelaku usaha bakal mendesak pemerintah mewajibkan stempel Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk semua produk yang beredar di pasar lokal. Ini adalah upaya mencegah banjirnya baja impor dari China."kata dia.

Handaja menilai, sejauh ini belum ada wajib SNI untuk produk baja lapis seng aluminium. Penerapan wajib SNI baja lapis seharusnya sudah berlaku mulai tahun ini. " Kami ajukan untuk safe guard atau antidumping produk impor,"terangnya.

Namun, dia juga meyakini industri baja bakal medapatkan dampak yang positif dari kebijakan pemerintah yang menggenjot pembangunan infrastruktur dan proyek sejuta rumah. "Dalam pembangunan rumah, sekarang ini baja sudah dibutuhkan oleh banyak industri swasta atau pun oleh industri milik pemerintah,"terangnya.

Dengan adanya program satu juta rumah dan proyek pemerintah lainnya, dia berharap dapat memperoleh angka penjualan pada akhir tahun 2017 sebesar Rp 1,3 triliun.

Vice President ASEAN Metal Industry Association, Irvan Kamal Hakim mengatakan, pemerintah sudah seharusnya mendorong peningkatan daya saing dan mutu salah satunya dengan pemberlakuan SNI. " Penting juga buat negeri kitanya sendiri untuk siap bersaing dengan produk impor, "kata Irvan.

Dia menjelaskan dalam kompetisi industri baja di Indonsesia ada dua faktor yang paling rentan yaitu volume jumlah produksi impor dan harga baja. "Kalau kebanyakan impor ya jatuh baja lokal, tapi lebih penting itu adalah harga jual produk. Bahaya bagi kita kalau China menjualnya jauh di bawah standar,"ucapnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industri Association (IISIA) Hidayat Triseputro mengakui, impor baja dari China sampai saat ini masih jadi tantangan yang berat bagi para pelaku industri." Industri nasional harus dijaga jangan sampai penjualan turun karena diserbu baja impor."ujarnya.

Menurut Hidayat, yang masih menjadi tantangan industri baja tahun ini adalah pengamanan industri baja nasional dari serbuan baja impor dengan harga yang dinilai tidak sesuai. Dia menegaskan standarisasi baja sangat penting untuk mencegah membanjirnya baja buatan China.

Selain itu, kata dia, pemerintah harus menyadari pentingnya menggunakan produk dalam negeri. Dia juga meminta pemerintah dalam menggalakkan proyek jangan tergiur dengan baja murah buatan luar. Hidayat berharap, proyek-proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bisa menyerap produksi baja dalam negeri. "Selain didorong dengan wajibnya SNI, pemerintah sendiri dalam membangun proyek besar perlu mengutamakan produk lokal,"terangnya.

Meskipun baja impor masih menjadi polemik, tapi tahun ini, industri baja diprediksi bisa tumbuh mencapai 8 persen. "Kami harapkan bisa tumbuh di atas 5 persen, bisa lebih dari 7 bahkan 8 persen,"katanya.

Dia juga menambahkan proyek pemerintah yang akan menggenjot sektro infrastruktur bisa mendongkrak penjualan baja pada tahun ini. Proporsinya 75 persen akan disuplai ke segmen infrastruktur, lalu transportasi 8 persen minyak dan gas 7 persen, lalu mesin dan lainnya sebanyak 4 persen.

Proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang masih berlanjut juga akan memberikan angin segar bagi industri ini. Terlebih dengan dipangkasnya harga gas oleh pemerintah. 


Sumber : Harian Rakyat Merdeka



Berita Lainnya